Modules
· Depan
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery Photo
· Journal
· Pencarian
· Top 10
· Tulis Berita
· Web Links

     Who's Online
Saat ini ada, 9 tamu 0 member yang sedang online.

Anda bukan member. Silakan daftar di sini, gratis!

 LANJUT USIA YANG HIDUP MANDIRI DAN TETAP MENGABDI PADA NEGARA

Komnas LansiaAdmin menulis "

LANJUT USIA YANG HIDUP MANDIRI DAN TETAP MENGABDI  PADA NEGARA
Oleh : Heru Martono


Siapa yang tidak mengenal nama Bapak Prof. Dr. J. B. Sumarlin, mantan pejabat birokrasi yang sukses menapak karirnya pada era tahun 1969 sampai dengan 1998?. Lanjut usia kelahiran  tahun 1932 atau 77 tahun lalu ini berasal dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Nglegok, Kakupaten Blitar (sekarang sudah masuk Kota Blitar), jika ingin mencapai desanya harus pula masih naik dokar dulu. Sampai beberapa waktu semasa ia menjadi menteri, desanya belum dijamah oleh listrik.

Bagaimana perjalanan hidupnya?. Perjalanan hidupnya memang penuh tantangan, karena sejak usia 12 tahun ia sudah ngenger (ikut menjadi bagian dari keluarga lain) pada paman (saudara ibu) yang menjadi pengawas pamong praja di Kediri, sehingga hal itu menempa Sumarlin kecil menjadi orang yang tegar dan mempunyai pengalaman hidup dan wawasan yang luas. Begitu terkesannya pada waktu ia ngenger pada pamannya, yaitu Sumarlin remaja ini ditugasi untuk mengurusi 17 pohon kelapa dan 75 pohon mangga.
Pada masyarakat Jawa  ngenger adalah suatu bentuk pelatihan hidup bagi anak-anak remaja kepada keluarga yang ekonomi atau posisinya lebih baik. Para remaja yang ngenger ini ikut menjalani proses kehidupan dari keluarga yang diikuti, jika ngenger pada keluarga petani maka para remaja ini ikut serta mengerjakan pekerjaan pertanian. Di keluarga paman Sumarlin, jumlah remaja yang ngenger sebanyak 13 orang. Jumlah sebanyak itu tidak terus menerus tetap, terkadang keluar, kemudian masuk remaja lainnya, begitulah kondisi yang ada



Bagaimana riwayat pendidikannya?. Pada waktu zaman Jepang beliau sudah menamatkan Sekolah Rakyatnya (sekarang Sekolah Dasar), namun karena ingin melanjutkan ke SMP ia mengulang lagi proses pendidikannya. Kemudian pada waktu beliau masih duduk di SMA beliau keluar dari sekolahnya dan bergabung menjadi Tentara Pelajar (zaman agresi ke II, Belanda tahun 1949). Tahun 1951 beliau melanjutkan pendidikan dan masuk di SMA Budi Utomo, Jakarta. Tahun 1952-1957 sambil kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, beliau bekerja di swasta pada NV Stars Industri, Jalan Cikini Raya 78, Jakarta sambil mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Untuk menambah wawasan dan cara pandang  yang revolusioner, beliau  hidup melanglang buana di Yogya dan Jakarta dan bahkan ke Amerika. Hal ini  perlu ditiru para generasi muda kita. Bak pepatah lama hidup banyak dirasa, jauh perjalanan banyak dilihat. Hebat memang, di usia mudanya beliau sudah mempunyai prinsip, beliau tidak begitu saja menerima Manipol Usdek yang pada jaman itu menjadi pro dan kontra antar generasi muda. Karena ketidakcocokan  kondisi yang ada dengan prinsipnya maka beliau meninggalkan  profesinya sebagai dosen pada Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia dan pergi untuk sementara dan menimba ilmu di University of California, Barclay, USA. Para lulusan universitas ini ada yang menjadi ekonom yang pernah mengarsiteki pembangunan di  negeri ini. Pada zamannya kelompok Barclay ini sangat terkenal terkenal, bahkan pada waktu wawancara studi di Universiity of Southern California (USC), mahasiswa asing yang mengambil studi tentang Indonesia juga diberikan pengetahuan tentang group Barclay yang menjadi arsitek pembangunan di Indonesia.  Bapak Sumarlin dan Bapak Widjojo Nitisastro termasuk kelompok ini.

Karirnya di pemerintahan sangat cemerlang, mulai pada tahun 1969 menjadi Deputy di Bappenas, tahun 1973-1983 menjabat Menteri Penertiban Aparatur Negara, merangkap Menteri Bappenas. Pada tahun 1988 menjadi Menteri Keuangan, dan 1993-1998 menjadi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Seandainya beliau tidak keluar dari Blitar mungkin ia tetap menjadi petani seperti teman-teman dan saudara-saudaranya.

Walaupun sudah masuk lanjut usia, beliau masih tetap carming, trendy, sehingga pada waktu menerima Komnas Lansia untuk berbincang-bincang mengenai pandangannya tentang generasi muda dan lanjut usia, beliau memang kelihatannya masih sehat, sangat ramah, tetap sumringah bersemangat.

Bagaimana kiat beliau tetap sehat, karena ia rajin berolahraga. Perlu diketahui bahwa ia belajar tenis justru pada waktu sedang studi di Amerika Serikat, kemudian pada tahun 2000 olahraganya beralih ke golf dan kemudian pada tahun 2003 ia belajar berenang, walaupun dulu di desanya ia pandai berenang di kali (sungai). Menurut beliau berenang di sungai itu sangat berbeda dengan berenang di kolam renang. Untuk menjaga kesehatannya ia tetap secara rutin memeriksakan kesehatan dirinya.

Walaupun sebagai mantan pejabat tinggi negara, saat ini beliau masih tetap bekerja di  suatu perusahaan swasta dan kembali ke kampus. Mengapa ia tetap melakukan hal tersebut?. Alasannya karena tenaga dan pemikiran beliau masih dibutuhkan. Selagi orang lain masih membutuhkan kita dan kita bisa melakukannya, maka kita tetap akan berbuat, apalagi  untuk negara dan bangsa” kata beliau. Beliau merasa sangat bahagia dengan profesinya sebagai dosen   para kandidat doktor di bidang Ilmu Ekonomi. Pada masa beliau masih sebagai Menteri Keuangan dan menjabat berbagai jabatan, orang mengaguminya. Bahkan dalam suatu diskusi di televisi swasta baru-baru ini, seorang mantan pejabat menteri dengan tulus mengakui dan menyatakan bahwa hanya ada dua orang yang pernah menjabat Menteri Keuangan yang dia akui terbaik yaitu Sri Mulyani dan Bapak Sumarlin saja. 
Kegiatan lain di masyarakat yaitu tetap bersama koleganya mengikuti kegiatan kemasyarakatan dan olahraga pada hari-hari libur.

Bagaimana tentang keluarganya?. Ia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Beliau dikarunia 5 orang putra, dan 6 orang cucu. Di rumahnya yang luas itu, juga tinggal bergabung dengan anak dan beberapa cucunya. Prinsip dalam kehidupan keluarga dan menjadi falsafahnya yaitu bahwa sebagai orang Jawa anak harus bertanggungjawab untuk merawat/mengurusi orang tua. Namun pada kenyataannya orang tua tidak mau ikut dengan anak-anaknya. Orang tua walaupun dianggap kurang mampu, ia tetap mau hidup mandiri, tidak ingin bergabung bersama menjadi satu rumah dengan anak-anaknya.

Untuk itulah beliau memberikan pesan kepada generasi muda agar mereka dapat mengantisipasi keadaan ini sehingga mereka tetap akur-akur saja dan dapat mengikuti pola pikir orang tuanya. Biarkan mereka hidup mandiri, namun sang anak harus tetap mempunyai atensi kepada orang tuanya. Jangan pula dipaksakan untuk mengikuti anak-anaknya. Biasanya orang tua akan secara bergiliran keliling ke anak-anaknya. Jika sudah merasa jenuh dengan anak dan cucu-cucu yang satu ia akan bergilir kepada anak-anak dan cucu-cucu yang lainnya, demikian seterusnya.

Beliau berharap agar kepada lanjut usia tetap diberi kesempatan untuk ikut membangun negeri ini. Kesempatan agar diberikan sesuai dengan kemampuan fisik dan mentalnya sehingga dengan demikian diharapkan lanjut usia dapat  aktif,  berpartisipasi, tua agar tetap bugar dan berguna bagi bangsa. Semoga ya prof.

 

Download versi PDF

"



 
     Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Komnas Lansia
· Berita oleh dani


Berita terpopuler tentang Komnas Lansia:
Pedoman Pelaksanaan Posyandu Lanjut Usia


     Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


     Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


"LANJUT USIA YANG HIDUP MANDIRI DAN TETAP MENGABDI PADA NEGARA" | Login/Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini