Modules
· Depan
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery Photo
· Journal
· Pencarian
· Top 10
· Tulis Berita
· Web Links

     Who's Online
Saat ini ada, 10 tamu 0 member yang sedang online.

Anda bukan member. Silakan daftar di sini, gratis!

 Dampak sistemik

Topik UmumAdmin menulis "

 

LANJUT USIA DAN DAMPAK SISTEMIK DALAM SIKLUS KEHIDUPAN
Benarkah bahwa, tidak perlu ada program upaya peningkatan kesejahteraan terhadap lanjut usia, karena lanjut usia tidak mempunyai dampak sistemik terhadap siklus kehidupan ?
 
Heru Martono

 



 

Jumlah dan pertumbuhan penduduk lanjut usia dari tahun ke tahun terus meningkat dengan pasti. Jumlah dan pertumbuhan ini tidak terlepas dari adanya usia harapan hidup yang terus meningkat. Usia harapan hidup meningkat terjadi karena keberhasilan pembangunan yaitu kemajuan di bidang kesehatan, pendidikan, pengetahuan, dan tingkat pendapatan yang semakin meningkat. Tingkat pendidikan ini mempunyai hubungan dengan tingkat pengetahuan, serta tingkat penghasilan seseorang. Orang yang mempunyai pendidikan dan pengetahuan cenderung akan meningkat penghasilannya sehingga jika mereka sakit akan memilih sarana kesehatan yang lebih baik. Oleh karenanya semua ini akan berdampak terhadap adanya usia harapan hidup yang semakin meningkat.
Jumlah lanjut usia terus meningkat dan menurut proyeksi WHO pada 1995 dimana, pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 1990 bahwa pertumbuhan penduduk lanjut usia Indonesia mengalami pertumbuhan terbesar di Asia, yaitu sebesar 414%, Thailand 337%, India 242%, dan China 220%.
Jumlah lanjut usia Indonesia, menurut sumber BPS bahwa pada tahun 2004 sebesar 16.522.311, tahun 2006 sebesar 17.478.282, dan pada tahun 2008 sebesar 19.502.355 (8,55% dari total penduduk sebesar 228.018.900), sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lanjut usia sekitar 28 juta jiwa. Sungguh suatu jumlah yang sangat besar sehingga jika tidak dilakukan upaya peningkatan kesejateraan lanjut usia sejak sekarang akan menimbulkan permasalahan dan bisa jadi merupakan bom waktu di kemudian hari. Kecenderungan timbulnya masalah ini ditandai pula dengan angka ketergantung lanjut usia sesuai Susenas BPS 2008 sebesar 13,72%. Angka ketergantungan penduduk akan menjadi tinggi dan dirasakan oleh penduduk usia produktif jika ditambah dengan angka ketergantungan penduduk usia kurang dari 15 tahun, dimana saat ini jumlah penduduk kurang dari 15 tahun sebesar 29,13%.
Hasil kajian yang dilakukan oleh Komnas Lansia pada tahun 2009 bahwa sebagaimana disebutkan dalam pasal 5 Undang-undang Nomor 13/1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, jumlah instansi sesuai dengan tugas pokoknya yang seharusnya memberikan layanan terhadap lanjut usia masih sangat terbatas. Terbatasnya instansi yang seharusnya memberikan layanan tersebut antara lain karena kurangnya pemahaman dan kesadaran pejabat dari instansi tersebut sehingga kurang mendapat prioritas dan akibatnya dana yang disediakan oleh instansinya terbatas dan bahkan tidak ada sama sekali. Tragis memang, kemajuan di bidang pembangunan yang dicapai oleh pemerintah tidak pula diikuti dengan tingkat partisipasi instansi pemerintah dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia. Namun walaupun terbatas sudah ada  layanan kesehatan, bantuan dan perlindungan sosial di tingkat lapangan oleh beberapa instansi dan bahkan juga diselenggarakan oleh masyakat dan keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 13/1998 disebutkan bahwa pemerintah, masyarakat dan keluarga bertanggungjawab dalam upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia.
Dalam kaitannya dengan tingkat partisipasi lanjut usia dalam bidang pembangunan yaitu adanya lanjut usia yang bekerja sebesar 36,11% (kota) dan sebesar 52,75% (desa). Besarnya jumlah lanjut usia yang bekerja di perdesaan lebih banyak dibandingkan dengan daerah perkotaan antara lain karena pekerjaan di perdesaan didominasi oleh pekerjaan bidang pertanian yang pada umumnya menjadi mata pencarian pokok. Bekerja sebagai petani tidaklah membutuhkan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi sehingga hal ini sesuai dengan tingkat pendidikan lanjut usia dimana jumlah lanjut usia yang tidak sekolah, tidak tamat SD, dan hanya berpendidikan SD totalnya sebesar sekitar 86%.
Adalah sangat ironis bahwa partisipasi lanjut usia dalam bidang pembangunan antara lain hanya dilihat dari lanjut usia yang bekerja, padahal ada sebesar 25,47%  peranserta lanjut usia di bidang lain-lain (Sakernas BPS 2008). Di bidang lain-lain ini bisa jadi sangatlah berkualitas misalnya yang bersangkutan melakukan penyiapan sumber daya manusia bangsa ini, bisa jadi angka itu ada yang menjadi pengasuh cucu-cucunya, sebagai guru ngaji, mengajar musik, mengajarkan ilmu pengetahuan lainnya dan banyak pula yang ikutserta dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan tidak sedikit pula sebagai pemilik perusahaan yang mempekerjaan banyak karyawan.
Adanya kepedulian yang rendah terhadap lanjut usia dapat diungkapkan dari pernyataan yang sangat menyakitkan “Tidak perlu ada program upaya peningkatan terhadap lanjut usia, karena lanjut usia tidak mempunyai dampak sistemik  terhadap siklus kehidupan”  Pernyataan itu kurang lebih memang terbukti jika dibandingkan dengan program dan partisipasi pemerintah dan masyarakat dengan pelaksanaan program untuk tumbuh kembang bagi anak dan remaja. Program ini katanya sangat berdampak secara sistemik dalam siklus kehidupan atau penyiapan SDM bangsa. Generasi yang baik dan berkualitas akan dipengaruhi oleh kualitas gernerasi mudanya, makanya program yang berkaitan dengan anak dan remaja menjadi prioritas ?
Luar biasa memang, kalaulah bangsa ini berpikir seperti itu maka untuk apa dilakukan upaya peningkatan usia harapan hidup penduduk, jika dihari tuanya hidup lanjut usia kurang mendapat perhatian dari semua kita. Perlu diacungi jempol ucapan seorang menteri bahwa “terpuruknya bangsa pada saat ini, karena kita belum memberikan penghormatan yang selayaknya kepada lanjut usia” Oleh karena itu pula kementerian tersebut secara konsekwen meningkatkan program-programnya di bidang kelanjutusiaan.
Lantas bagi kita yang sedang memegang tampuk pimpinan, tokoh masyarakat dan para keluarga, kapan ada suatu gerakan kepedulian terhadap lanjut usia ? Dimulai dari mana ? Seluruh instansi pemerintah dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah dan bahkan di lini terbawah yaitu perdesaan. Seluruh institusi kemasyarakat seperti RT, RT, PKK, Karang Taruna, kelompok-kelompok sosial atau organisasi sosial mari secara bersama-sama melakukan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia di lingkungannya secara proporsional. Mudah-mudahan. Suatu renungan menjelang Hari Lanjut Usia Nasional 29 Mei 2011.

 

"



 
     Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Topik Umum
· Berita oleh rettyirwanasir


Berita terpopuler tentang Topik Umum:
EMOSI ADALAH PENYEBAB PENYAKIT YANG TERSEMBUNYI


     Nilai Berita
Rata-rata: 2
Pemilih: 3


Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


     Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


"Dampak sistemik" | Login/Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini